-->
Putar Balik Makna Keributan Kelas

Putar Balik Makna Keributan Kelas

Putar Balik Makna Keributan Kelas

Tumbuh itu pasti. Berkembang itu proses. Begitu pula dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Kita selaku orangtua maupun guru di sekolah sepatutnyalah memperhatikan hal yang demikian itu. Proses itu pasti dilalui dalam berbagai macam hal yang menghiasinya. Kegiatan belajar mengajar di sekolah, memberi arti bahwa proses pembentukan karakter manusia itu bukanlah perkara yang instan, dan proses mencerdaskan anak bangsa itu bukanlah kegiatan yang sebentar.

Dalam kegiatan belajar mengajar, hal yang mendasar yang perlu kita ketahui adalah bahwa tidak semua anak didik itu pintar. Maka oleh sebab itu, kita sebagai guru perlu mempersiapkan tenaga yang ekstra untuk melakukan transfer ilmu. Karena pada dasarnya, anak yang sekolah itu sedang membutuhkan ilmu, membutuhkan kita sebagai orang pemberi ilmu. Manusiawi ketika kita merasa lelah dalam mengajar di sekolah. Menghadapi anak-anak yang tingkahnya berlebihan, perhatiannya berlebihan, daya tangkap yang berbeda-beda, dan masih banyak lagi tipe-tipe anak. Di dalam satu kelas saja kita sudah berhadapan dengan banyak tipe itu, apalagi harus berpindah ke kelas yang lainnya. Sementara, guru itu biasanya menghabiskan waktunya di sekolah dengan memberkan pelajaran yang diembannya pada kelas yang berbeda-beda.

Kesabaran dinilai sangat perlu dihadirkan bagi setiap insan yang mengemban tugas sebagai guru. Dikatakan demikian, karena tanpa adanya rasa sabar dalam diri seorang guru, akan sulit untuk memberikan ilmu yang hakiki. Karena, ilmu yang diberikan bercampur dengan rasa marah, bahkan menjurus kepada rasa tidak ikhlas. Dengan demikian, jangankan berharap untuk kecerdasan siswa, untuk mendengarkan sajapun, siswa itu sendiri mungkin tidak akan bisa. Otomatis, kelas tidak akan kondusif, dan tujuan pembelajaran pasti tidak akan tercapai pada waktu itu.

Terkadang, sabarnya guru itu dinilai berbalik oleh siswa. Justru mereka lebih suka dengan guru yang tidak pernah marah, baik, sabar, penyayang dan lembut. Mereka merasa senang karena mereka akan bisa merasa bebas di dalam kelas. Bebas berbicara, bebas bergerak tanpa ada batasan. Disaat inilah guru harus jeli dalam menilihat kondisi. Kesabaran bukanlah sebuah pengabaian, mungkin lebih tepatnya “pengarahan dengan ketenangan yang terstruktur”.

Ketiak kondisi di atas terjadi disaat mereka berbicara dengan temannya, atau mau berbicara lepas dengan guru, berani mengutarakan pendapat dengan bebas kepada guru, disitu akan terlihat bahwa inilah potensi siswa, inilah yang harus diarahkan dan dikembangkan. Mungkin pernah atau bahkan sering ditemui bahwa terdapat siswa yang malas berbicara atau bertanya kepada guru saat jam pelajaran tiba. Siswa tidak mau mengeksplor pengetahuannya dari luar. Bisa jadi karena guru yang masuk di jam pelajaran itu terlalu serius dan membuat suasana menjadi terasa tegang. Pada akhirnya, muncul rasa takut dalam diri siswa untuk mengeksplor apa yang diketahuinya, apa yang didapatnya dari alam bebas selama berada di luar sekolah.

Bila dicermati, kondisi di atas memberi arti bahwa perlunya pengamatan mendalam yang dilakukan guru terhadap realitas yang terjadi di lingkungan sekolah. Memang siswa itu akan sulit untuk diberikan arahan. Saat di dalam kelas, selalu saja ada yang berbicara dan membuat suasana menjadi ribut. Tapi, realitas ini begitu rata, menyebar. Pada tiap-tiap lokasi sekolah, juga pernah merasakan hal demikian. Mungkin bisa diambil nilai baiknya, memutar balik 360 derajat tentang keributan siswa di kelas itu. Rusah menjadi sesuatu yang baik, bahwa keributan mereka adalah potensi mereka yang besar. Kita harus mampu mengarahkannya, membimbingnya untuk menjadikannya modal dimasa yang akan datang. Ketika dia bercerita, menumbuhkan rasa percata diri padanya. Mari kita kembangkan dengan memberikannya kesempatan bercerita dengan terstruktur di depan kelas misalnya, atau membahas tentang topik yang diceritakannya dengan arahan yang kita arahkan kepada manfaat dari ceritanya, atau hal lainnya yang mampu merubah menjadi nilai positif. Tentu ini merupakan tugas kita sebagai guru, demi perbaikan anak bangsa kedepannya.

Kata kunci: Guru, Sabar, Keributan kelas
Read more »
ANTARA BAKAT DAN KEBIASAAN SEHARI-HARI

ANTARA BAKAT DAN KEBIASAAN SEHARI-HARI


Suatu ketika seorang guru laki-laki muda masuk ke dalam kelas untuk memberikan pembelajaran di sekolah MDA itu. Sore itu, guru membuka pelajaran dengan mengawali doa bersama dengan siswa, dan dilanjutkan dengan bacaan-bacaan surah pendek. Guru memulai dengan mengabsen kehadiran siswa.

Pembelajaran pada hari itu yakni “Alkhot”, yaitu menulis tulisan arab yang dibubuhi dengan berbagai hiasan sesuai dengan tingkat kreativitas masing-masing siswa. Banyak pertanyaan yang dilontarkan siswa terhadap gurunya waktu itu. Bertanya soal tulisannya pakai arti atau tidak, bertanya soal pakai pensil atau pulpen, bahkan ada yang sampai menanyakan tulisannya bagus atau tidak. Guru itu pun menjawab, “tulis saja nak, Abi mau lihat sejauh mana kreativitas kalian. Tuangkan saja apa yang menurut kalian cantik, indah, supaya nanti kalian bisa lestarikan tulisan arab ini.”

Kegiatan berlajan dengan ribut lancar. Ya, ribut lancar merupakan kondiri real di dalam kelas masa sekarang ini. Kalau dulu, ketika kita melihat guru saja sudah takut dan berlomba untuk diam di bangku sekolah. Tapi masa milenial ini, mereka lebih menganggap guru itu sebagai sahabat mereka. Perlu perhatian mendalam bagi seorang guru dalam mengajar di kelas agar tak salah sikap dalam menjalankan aktivitas mengajarnya.

Guru terfokus pada salah satu siswi. Hampir setiap hari, ocehannya terdengar dimana-mana dalam lingkungan sekolah. Siswi yang satu ini, cukup aktif berbicara, apalagi berbicara di dalam kelas. Tapi, siswi ini tidak punya teman sebangku. Setiap harinya selalu duduk sendiri di tempatnya. Tapi itu tidak membuatnya menjadi diam dan lugu, justru itu sama sekali tidak mengganggu, malah dalam suatu waktu, siswi itu berkata bahwa dia lebih senang sendirian dari pada bersama teman.

Guru mengingat segala aktifitas mengajarnya di ruangan yang sama selama seminggu yang lalu. Siswi inilah yang tidak pernah diam di tempat duduknya. Selalu saja berjalan kesana kemari mengikuti maunya. Larangan untuknya harus keras. Jika diberikan arahan dan larangan yang lembut, akan diabaikan olehnya. Namun, guru tersebut bukan sosok yang kejam dan ditakuti siswa di sekolah itu. Kesabarannya membuat siswa merasa nyaman padanya, sehingga segala hal yang ada di benak pikiran siswa, akan dicurahkan kepada guru muda yang satu ini.

Guru itu tetap bersemangat mengajar di kelas dengan salah satu siswi yang sebut saja “perhatian tadi”. Tiga hari sebelumnya, guru itu kebingungan oleh tingkahnya. Siswi itu bersemangat saat diberikan tugas. Namun demikian, tugas yang diberikannya dibuat sebaik-baik mungkin sesuai dengan keinginan hatinya, sehingga waktu pengumpulannya terlambat dibandingkan teman yang lain. Tapi anehnya, siswi ini tidak memperdulikan hal itu. Asik dengan ekspresinya sendiri bersama tugas yang diberikan. Walau sedikit merasa aneh, guru itu mencoba sabar dan memberikan kesempatan bagi siswi ini untuk mengumpulkannya keesokan harinya. Padahal, tugas itu bukan sesuatu yang memakan waktu lama, hanya saja dia melukis-lukis bingkai kertas tugasnya, agar terkesan cantik. Walau pada akhirnya, tugasnya pun tak siap.

Lagi keesokan harinya, pada tugas yang lain dengan tema yang lain. Hal yang hampir serupa juga terjadi. Waktu itu setiap orang harus membaca Alquran di depan kelas dengan dibimbing oleh guru. Tapi, siswi yang dimaksud di atas tadi, juga melakukan hal yang hampir serupa. Dia tak perduli dengan hal itu. Dia lebih sering tertawa terbahak-bahak sendiri sambil mengganggu temannya yang sedang serius belajar Alquran di sekitarnya. Walau demikian, kesabaran guru masih tetap diberikan. Guru itu membiarkan siswi itu mengeksplor pengetahuannya. Seolah tak berarti, tetapi itulah bibit kecil dalam diri mereka yang sepatutnya diperhatikan.

Setelah pembelajaran Alkhot ini, guru itu terkaget karena siswi inilah yang menampilkan karya terbaik di dalam kelas. Hiasan yang dibuatnya benar-benar memikau dan membuat perhatian. Dikatakan demikian, karena di kelasnya, dialah siswi yang terampil memilih model hiasan yang baik untuk tulisannya. Tulisan arab itu ditebalkannya, dibentuknya seolah-olah menggunakan pensil kaligrafi. Luar biasa. Walau tukang bercerita, tapi kreatifitas anak ini dalam bidang desain perlu untuk diarahkan atau dikembangkan.

Dari cerita di atas, yang masih menjadi pertanyaan adalah tidak terlihatnya hubungan bakat dengan aktifitas sehari-hari, mengapa demikian? Apakah kita salah dalam memaknai bakat? Apakah bakat itu sebatas pada kemampuan yang mampu dilakukan sehari-hari? Ah, tak tahulah. Mungkin hal ini bisa dijadikan bahan kajian penelitian secara mendalam.
Read more »
SKRIPSI BUKAN PENGHALANG

SKRIPSI BUKAN PENGHALANG


Bagian 1
MELAKUKAN IDENTIFIKASI MASALAH

Sebelum menemukan masalah, peneliti terlebih dahulu melakukan identifikasi masalah. Pertama yang harus kita ketahui adalah apa itu identifikasi. Identifikasi yang dimaksud disini adalah mencatat masalah yang ada di lapangan. Dalam keadaan ini, kalian sebagai seorang peneliti harus jeli dalam melakukan identifikasi. Dalam memutuskan atau menetapkan suatu pokok masalah, tidak bisa dilakukan dengan serta merta atau bahkan mengada-ada. Maka oleh sebab itu, diperlukan adanya identifikasi agar dapat memutuskan dan mengangkat masalah dalam sebuah penelitian.

Dalam pelaksanaan identifikasi, yang harus peneliti lakukan adalah mencatat segala yang terjadi di lokasi penelitian. Catatan yang dibuat sebaiknya dalam bentuk point-point atau 1, 2, 3, 4, ... dan seterusnya. Dalam catatan tersebut nantinya akan banyak bermunculan masalah dari poin per point. Isi dari catatan merupakan apa yang kita lihat dan yang kita dengar. Kita melihat suatu kegiatan yang unik misalnya, maka kita catatkan di dalam buku identifikasi tersebut. Nantinya, hasil akhirnya akan muncul beberapa poin-poin dalam buku identifikasi tersebut. Perlu untuk diingat, bahwa kita tidak perlu untuk memilih-milih apa yang harus di catat. Melainkan segala yang berkenaan dengan proses belajar mengajar di lokasi penelitian baik hal positif, maupun negatif. Untuk lebih memusatkan perhatian, dalam penelitian tindakan kelas biasanya melakukan identifikasi terhadap 1 mata pelajaran saja.

Ketika identifikasi telah selesai dan peneliti mendapat data mentah dari lapangan, maka selanjutnya yaitu melakukan pengelompokan terhadap hasil identifikasi tersebut. Poin-poin yang ada tadi, kita kelompokkan menjadi beberapa bagian. Misalnya, bagian mengajar guru. maka kondisi yang kita tuliskan tentang mengajar guru, kita pilih dan buat satu kategori baru. Kemudian bagian kegiatan atau respon siswa selama kegiatan belajar, kita kelompok dan buat satu kategori baru.

Melakukan kegiatan identifikasi masalah merupakan langkah yang tidak bisa dihilangkan dalam sebuah penelitian. Tanpa adanya identifikasi masalah, peneliti akan kesulitan dalam menemukan masalah dan memusatkan perhatian dalam penelitian. Dengan adanya hasil identifikasi masalah ini, semakin dekat langkah kita dalam menemukan masalah dalam penelitian.


Bagian 2

MENEMUKAN MASALAH DALAM PENELITIAN PTK

Banyak orang yang kesulitan dalam menemukan masalah untuk sebuah penelitian. Pertanyaan yang mendasar dan sering kita dengar terkait hal penelitian adalah “apa masalahnya?”. Menemukan masalah untuk sebuah penelitian bukanlah perkara yang mudah. Masalah yang dimaksud disini tentulah masalah yang berkaitan dengan pendidikan atau kegiatan belajar mengajar di kelas. Masalah disini sebaiknya bukanlah masalah yang kita buat, artinya masalah yang kita rancang sedemikian rupa seolah-olah memang terjadi suatu masalah di lokasi penelitian kita. Ketika demikian, maka kita akan menjumpai kesulitan dalam penyelesaian penelitiannya nanti ketika sampai pada analisis data, pembahasan, dan lain sebagainya. Mengapa demikian? Karena kita sebagai manusia biasa bukanlah perkara yang mudah untuk mengingat segala kondisi yang ada di lapangan. Bagaimana kita meyakinkan orang atau pendengar sedangkan kita sendiri tidak paham akan hal yang terjadi dilapangan? Walau demikian, hal di atas bukanlah memberi arti bahwa menemukan masalah itu sulit, namun bukan juga berarti mudah.

Lalu bagaimana cara kita menemukan masalah dalam lokasi penelitian kita? Berikut ini beberapa cara yang dapat dilakukan dalam menemukan masalah di lokasi penelitian:

1. Melihat kondisi di lapangan.
Maksudnya disini adalah kita hadir di lokasi penelitian, kemudian kita melihat reel di lokasi penelitian. Rutinitas yang ada di lapangan bagaimana? Kebiasaan yang ada di lapangan bagaimana? Tentunya kegiatan ini memakan waktu yang tidak sebentar. Kalian perlu datang ke lokasi penelitian untuk melihat secara langsung untuk memastikan keadaan sebenarnya. Estimasi waktu yang dibutuhkan biasanya berlangsung dalam waktu 2 sampai 3 mingu, bahkan ada yang sampi menghabiskan waktu selama 4 bulan. Mengapa demikian, karena rutinitas kegiatan di sekolah itu biasanya permingu. Roster atau kegiatan belajar mengajar akan berulang dalam kurun waktu satu minggu. Setelah seminggu, maka dimulai lagi dari hari Senin dengan kegiatan yang serupa.

Penelitian tindakan kelas atau yang biasa disebut dengan PTK, ini dilakukan di dalam kelas. Maka, agar lebih memusatkan perhatian, sebaiknya lihatlah kondisi di dalam kelas saja. Lihatlah seluruh perangkat dan kegiatan di dalam kelas. Misalnya, mengajar guru, cara mengajar guru, hasil ujian siswa, dan lain sebagainya. Dengan memusatkan perhatian di dalam kelas, akan lebih membantu kita untuk menemukan masalah yang cocok untuk penelitian tindakan kelas.

2. Menyesuaikan dengan regulasi atau dengan teori yang ada.
Maksudnya disini adalah setelah kita paham tentang apa kebiasaan yang terjadi di lapangan, kita kaitkan dengan regulasi yang ada. Dalam hal ini, tentu kita harus tahu dan paham terlebih dahulu tentang regulasi yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Selain regulasi yang ada, juga terdapat opsi lain, yaitu mengaitkan dengan teori-teori yang ada dan yang kita pahami.


Lebih rinci begini, tentang regulasi bisa juga kita kaitkan dengan peraturan sekolah. Bagaimana peraturan sekolah disana. Lebih baik lagi jika lebih diperluas, dengan memperhatikan standar penilaian misalnya. Bagaimana standar penilaian disana? Terlaksana ataukah tidak? Jika terlaksana, maka itu bukanlah sebuah masalah. Namun sebaliknya, jika tidak terlaksana, maka sudah pasti di dalamnya ada masalah. Nah, dari sini kita sudah melihat bahwa disitulah titik permasalahannya. Tentu kita dapat mengangkatnya dalam sebuah penelitian.

Bagian 3

MEMBUAT RUMUSAN MASALAH DALAM PENELITIAN

Membuat suatu rumusan masalah merupakan hal yang wajib dalam sebuah penelitian. Tanpa adanya rumusan masalah, tidak akan dapat membuat suatu tujuan penelitian. Dengan begitu, penelitian yang kita lakukan tentu tidak akan selesai dan tidak ada batasnya. Dengan begitu, kesimpulannyapun nanti tidak akan bisa didapati. Rumusan masalah dibuat ketika kita sudah menemukan suatu masalah yang akan diangkat dalam sebuah penelitian. Secara logis, bisa diartikan bahwa rumusan masalah yakni pertanyaan terhadap indikator dari pokok masalah dalam sebuah penelitan.

Rumusan masalah ini nantinya akan berbalas dengan tujuan penelitian yang akan di bahas pada BAB selanjutnya. Dimana, ketika kita membuatkan rumusan masalah 1, 2 dan 3, maka isi dari tujuan penelitian nantinya akan 1, 2 dan 3 juga. Isinya adalah menjawab dari rumusan masalah 1, 2 dan 3 itu sendiri.

Untuk penelitian berjenis skripsi, biasanya membuat perumusan masalah itu sebanyak 3 pertanyaan. Biasanya, pertanyaan yang dituliskan itu berisi dengan diawali kata “bagaimana”. Untuk lebih jelasnya mengenai apa isi dari ketiga pertanyaan tersebut dapat dilihat pada penjelasan di bawah ini:
  1. Rumusan masalah 1 ini berisi tentang penjelasan di lokasi penelitian. Apa pokok permasalahan yang kita temukan di lokasi penelitian, dibuat menjadi sebuah pertanyaan disini, di rumusan masalah 1. Nantinya, rumusan masalah ini akan berbalas dengan tujuan penelitian 1.
  2. Rumusan masalah 2 ini bukan lagi seperti rumusan masalah 1 di atas. Rumusan masalah 2 ini berisikan tentang proses kegiatan di kelas sebelum adanya action atau perlakuan. Mengapa demikian? Karena dalam sebuah penelitian PTK, dikatakan PTK karena adanya action atau perlakuan dalam sebuah penelitian. Artinya, peneliti melakukan sesuatu disini. Tentunya, jawaban atau penjelasan mengenai Rumusan Masalah 2 ini akan berbalas pada Tujuan Penelitian 2.
  3. Rumusan masalah 3 disini biasanya berisikan tentang hasil atau dampak setelah diadakannya atau dilakukannya action atau perlakukan dalam suatu penelitian. Bagaimana hasil yang didapatkan setelah adanya perilaku dalam pelaksanaan penelitian. Rumusan masalah 3 ini akan bijawab pada tujuan masalah 3.



Ketiga rumusan masalah di atas, memberi arti bahwa dalam penelitian PTK, peneliti perlu menjelaskan kondisi lapangan secara konkrit sebelum dilakukannya action. Disisi lain, peneliti juga mengungkap tentang apa yang dihasilkan dari adanya perlakuan atau action yang dilakukan selama proses penelitian.

Bagian 4

MEMBUAT TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian disini maksudnya adalah untuk apa penelitian itu dibuatkan. Jawaban dari tujuan penelitian disini bukanlah sembarangan, yakni menjawab dari rumusan penelitian yang telah dibuatkan sebelumnya. Kalau dalam rumusan masalah terdapat pertanyaan “bagaimana”, maka pada bagian tujuan penelitian ini akan menjawabnya seperti “untuk mengetahui”. Rumusan masalah dan tujuan penelitian adalah dua bagian yang saling berkaitan.

Penulisan tujuan penelitian dalam sebuah penelitian PTK tidak jauh berbeda dengan jenis penelitian lainnya. Jika pada BAB sebelumnya telah di bahas bagaimana membuat rumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas, maka pada BAB tujuan penelitian ini adalah menjawab dari rumusan masalah di atas. Bila rumusan masalah terdapat 3 buah/poin, maka tujuan penelitian juga berisikan 3 buah/poin dengan indikator yang sama. Pembuatan tujuan penelitian ini bukanlah perkara yang mudah.

Bagian 5
MEMBUAT MANFAAT PENELITIAN

Apa itu manfaat penelitian? Dari kata manfaat saja tentu sudah dapat dipahami maknanya. Hasil dari suatu penelitian tentunya akan diharapkan dapat memberi manfaat, baik itu pada elemen masyarakat, maupun pada elemen praktisi pendidikan. Manfaat penelitian dibuat sebagai bahan acuan tentang kepada siapa hasil dari penelitian ini akan disampaikan. Biasanya, penulisan manfaat penelitian ini terbagi atas dua bagian, yakni:
1. Menfaat secara teoritis.
Dalam bagian ini, peneliti menuliskan manfaat secara teoritis. Artinya, penelitian ini sebagai bahan bacaan bagi sebagian orang secara umum. 

2. Manfaat praktis.
Praktis maksudnya dalam praktiknya. Bagian ini berisikan tentang manfaat bagi praktisi pendidikan. Misalnya, dalam hasil penelitian kita ini dapat memberikan masukan bagi guru agar mengembangkan cara mengajar di kelas. Tidak hanya bagi guru, juga untuk kepala sekolah, yayasan, bagi peneliti lain sebagai bahan perbandingan dalam melakukan penelitian sejenis, dan lain sebagainya.

Read more »
SEKILAS TENTANG PRIBADI GURU PAI DI SEKOLAH TINGKAT DASAR

SEKILAS TENTANG PRIBADI GURU PAI DI SEKOLAH TINGKAT DASAR


Berbicara pada persoalan pribadi, memang tiada batasannya. Setiap manusia mendambakan penilaian baik pada pribadinya. Setiap manusia tentunya ingin memiliki pribadi yang baik dimata oranglain. Namun demikian, pribadi yang baik itu tidak pula serta merta hadir dalam diri, tanpa adanya penanaman nilai-nilai kebaikan pada diri seseorang. Nilai kebaikan itu sendiri didapatkan dari keilmuan yang dimilikinya. Dikatakan demikian, karena orang yang memiliki ilmu lebih banyak, maka hendaknya akan memiliki kepribadian yang lebih baik sejalan dengan keilmuannya. Berlaku juga untuk sebaliknya, bilamana seseorang itu memiliki keilmuan yang katakanlah belum baik, maka akan berdampak pada kepribadiannya. Sebab kepribadian itu tidak dapat diciptakan atau direkayasa sendiri, melainkan dari apa yang kita ketahui atau keilmuan kita.

Kepribadian bagi seorang guru tentu tidak bisa sembarangan. Dalam lingkungan pendidikan, guru itu sendiri untuk persoalan pribadinya sajapun turut diatur dalam perundang-undangan yang berlaku. Kepribadian guru dalam perundang-undangan yang dimaksud dapat dilihat pada undang-undang republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen pasal 1 ayat 10. Pada undang-undang di atas, disebutkan tentang kompetensi yang harus dimiliki seorang guru, yakni kompetensi, pedagogik, kepribadian, sosial dan professional. Terkhusus pada kepribadian, dalam undang-undang tersebut juga disebutkan bahwa yang dimaksudkan kepribadian itu yakni pribadi yang mantap dan stabil, arif dan bijaksana, wibawa, dan dapat menjadi teladan. Demikian pentingnya pribadi seseorang terlebih bagi seorang guru yang dicantumkan dalam perundang-undangan.

Realitas yang ada, terlihat bahwa kompetensi kepribadian ini merupakan salah satu kompetensi yang sering diabaikan. Dikatakan demiian karena kompetensi ini bersifat pribadi, maksudnya adalah bahwa pribadi seseorang itu tidak dapat secara serta merta dirubah. Karena kepribadian itu lahir dari dalam diri sendiri dan berjalan apa adanya tanpa bisa dibuat-buat atau direncanakan. Secara umum, mungkin itu yang dapat dijadikan alasan mengapa kompetensi kepribadian itu terkesan diabaikan. Pada hakikatnya, bukan diabaikan, melainkan pribadi itu sendiri tidak dapat dibuat-buat. Sehingga timbul anggapan bahwa kepribadian itu diabaikan, walau secara kasat mata, memang demikian adanya.

Pentingnya Kepribadian Guru
Tentu kepribadian itu sangatlah penting bagi siapa saja, baik itu setiap umat manusia umumnya, maupun bagi setiap guru khususnya. Memahami konsepsi di atas, tentu kita berangkat dulu dari apa yang dimaksud dengan guru. siapa sebenarnya guru itu. Diawali dari pembagian ilmu menurut Al-Ghazali, yang membagi ilmu kepada 2 bagian, yakni ilmu yang baik dan ilmu yang tidak baik. Ilmu itu didapati dari proses belajar. Secara umum, belajar itu dimaknai suatu proses transfer ilmu antara si pemilik ilmu dengan si penerima ilmu. Dalam konsteks ini, pemberi ilmu itu disebut dengan guru dan penerima ilmu itu disebut sebagai siswa. Dikatakan seseorang itu sudah belajar apabila sudah terjadi perubahan tingkah laku pada dirinya, sesuai dengan apa yang dimaksudkan dengan belajar yakni proses perubahan tingkah laku pada diri seseorang dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang buruk, menjadi baik. Pengertian itu terlalu luas. Karena tidak semua perubahan tingkah laku dapat dikatakan hasil dari belajar. Oleh sebab itu, dengan pengertian yang luas itu, dirasa perlu untuk dibatasi.

Manusia bila dikatakan sudah belajar, maka akan terlihat ciri dalam dirinya, yakni adanya perubahan tingkah laku. Yang dimaksud perubahan tingkah laku itu yakni dari yang tidak tahu, menjadi tahu, dari yang tidak baik menjadi baik. Jika keadaannya sebaliknya (dari yang baik menjadi buruk) tentu bukanlah termasuk pada kategori belajar. Contoh misalnya, seseorang yang sedang belajar ilmu hitam. Ilmu hitam itu bukanlah ilmu yang membawanya kepada perubahan yang lebih baik, malah semakin buruk. Tentu belajar ilmu ini tidak memberikan manfaat apa-apa pada diri manusia, justru akan menjerumuskan manusia ke lembah dosa yang membawanya ke neraka. Nauzubillah. Contoh sebaliknya, jika seseorang belajar tentang Alquran mengenai tajwid, itu akan memberikan suatu pengetahuan baru dan apa yang diketahuinya itu memberi kebaikan pula pada dirinya. Sebab kewajiban kita untuk membaca Alquran dengan baik dan benar (Tajwid).

Kalimat di atas setidaknya memberikan pemahaman kepada kita bahwa tidak semua ilmu itu adalah baik. Tidak segala bidang ilmu itu dapat dikatakan belajar. Karena pada hakikatnya bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku kea rah yang lebih baik sesuai dengan tujuan penciptaan manusia di muka bumi ini, yakni syahidna (bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah).

Setelah kita memahami tentang belajar atau ilmu, selanjutnya kita berangkat kepada pentingnya kepribadian guru. guru merupaan seorang terpelajar dan berilmu. Ilmu yang dilajari guru itu akan membawa perubahan pada dirinya. Semakin tinggi dan banyak ilmu seseorang itu, semakin baik pulalah kepribadian yang ditimbulkan dari perilakunya. Pribadi yang baik itu akan terlihat dari perilakunya, kesabarannya, kerendahan hatinya, dan lain sebagainya. Dengan ini, maka dapat dikatakan bahwa pribadi yang baik itu sangatlah penting adanya. Tanpa adanya pribadi, atau pengabaian pribadi, bagaimana mungkin dapat menciptakan siswa yang berkepribadian baik pula. Tentu akan menjadi isapan jempol semata.

Pribadi Guru PAI untuk Sekolah Dasar
Sekolah dasar merupaan jenjang pendidikan dasar dalam pendidikan di Indonesia. Pendidikan dasar ini merupakan pendidikan yang wajib diikuti bagi setiap warga Negara Indonesia. Pemerintahan di Indonesia mewajibkan belajar Sembilan tahun, mulai dari pendidikan yang paling rendah, hingga menengah, yakni SD sampai dengan SMP. Pendidikan dasar ini diisi oleh siswa dengan usia sekitar 6 tahun  hingga 13 tahun. Bila dilihat dari usia tersebut, dapat dikatakan bahwa anak-anak ini masih usia belia dan masih suci pikirannya. Belum dikotori oleh perkembangan maupun lingkungan. Maka oleh sebab itu, perlu kewaspadaan dalam memberikan ilmu kepadanya. Terlepas dari hal di atas, bahwa anak cenderung memiliki sifat imitasi atau meniru. Siswa pada tingkat dasar akan lebih cepat meniru dari apa yang dilihatnya. Sifat imitasi pada diri anak ini begitu kuat. Terkadang, mereka juga bisa mempraktikkan/memperagakan tarian yang mereka lihat di televisi. Ini membuktikan bahwa sifat imitasi itu benar-benar kuat dalam diri anak tingkat dasar.

Bagi guru yang membimbingnya di lingkungan sekoloah, hendaknya memiliki kepribadian yang baik pula. Sebab, pribadi guru itu selalu dilihat anak setiap saat. Anak akan meniru pribadi yang ditampilkan guru. kewibawaan guru PAI dalam pendidikan tingkat dasar terletak pada bagaimana guru menampilkan pribadi yang baik untuk diritu atau dicontoh. Bila demikian, dapatlah dikatakan guru itu berwibawa.

Read more »
KESALAHAN MAKNA AL-FATEKA

KESALAHAN MAKNA AL-FATEKA


Ada diantara kalangan para sahabat melaporkan pada Rasulullah bahwa ada para sahabat lain di suatu perkampungan suku Arab badui lainnya yang keliru bacaan al-Qur'annya, lantas Rasulullah memanggil sahabat itu dan meminta diperdengarkan. 

Akhirnya, Rasulullah bersabda bahwa "al-Qur'an itu diturunkan pada 7 dialek/aksen yang berbeda-beda." Mengapa Rasulullah menerima perbedaan dialek para sahabat yang berbeda-beda bacaannya itu? 

Jawabannya, karena perbedaan bacaan para sahabat, tidak merubah pada makna subtansi makna al-Qur'an itu. Menjadi lain persoalannya, jika ucapannya itu merubah pada subtansi makna dari ayat al-Qur'an itu sendiri. Nah, tentu Rasulullah tidak akan mentolerir. 

Masih ingat kisah kemarahan Sayyidina Umar bin Khattab terhadap orang yang sembarangan menyebutkan lafal al-Qur'an, beliau marah menegur seraya ingin memukulnya?!!

Soal aksen kita tidak boleh saling menghujat dan hina, tapi soal ketepatan makhrijul huruf dan ketepatan melafadzkan huruf itu wajib diluruskan dan wajib belajar untuk mengucapkan lafal yang tepat dan benar. Apa pasalnya? 

Sebab bahasa Arab merupakan bahasa yang paling kaya makna dan paling sensitif terhadap pergeseran makna. Artinya, kesalahan mengucapkan berakibat pada kesalahan makna. 

Contohnya: 
√ Lafadz "Qalbu" (قلب) bermakna "Hati", namun jika dibaca "Kalbu" (كلب) berubah menjadi "Anjing". 

√ Kosakata "Katala" (كتل) bermaknan"Menawan", tapi jika dibaca "Qatala" (قتل) berarti "Membunuh". 

√ Kata "Sakin" (سكين) dengan fathah bermakna "Ketenangan" bisa berubah menjadi "Pisau" jika dibaca "Sikin" dengan Kasrah. 

Dari sinilah seharusnya kita belajar dan harus terus belajar memperbaiki bacaan makhrijul huruf kita, sebab kesalahan dalam pengucapan makhraj huruf pastinya berakibat pada kesalahan-kesalahan bacaan al-Qur'an selanjutnya. 

Sekarang mari kita perhatikan pergeseran makna dari "al-Fatihah" menjadi "al-Fateka", bukan menurut saya, tapi menurut al-Mu'jam al-Wasith kamus yang menjadi rujukan bahasa Arab yang cukup dianggap sangat repesentatif saat ini. Apakah merubah makna atau tidak?  

Al-Fatihah bermakna "Pembuka"
Al-Fatika/al-Fateka bermakna "Kesewenangan,  "Membunuh" dan "Kekerasan."

Jadi, kesimpulannya budaya dan aksen/dialek bahasa daerah tidak bisa dijadikan justifikasi atas kesalahan pengucapan makharijul huruf bahasa Arab yang bisa dianggap disepele.
Read more »
APLIKASI RUBAH WORD KE PDF

APLIKASI RUBAH WORD KE PDF

Assalamualaikum Wr. Wb

Berkembangnya penggunaan alat elektronik pada era modern ini, semakin memaksa manusia untuk terus selalu belajar dalam penggunaan alat elektronik, terlebih lagi bagi para pelajar mulai dari SMP/MTs, SMA/MA, hingga dibangku perkuliahan tetap dituntut untuk melakukan pengembangan dengan alat elektronik.

Aplikasi coonverter memang kerap populer di kalangan mahasiswa/pekerja. Sebab, dengan merubah file Word ke PDF dan sebaliknya dari PDF ke Word dinilai semakin menarik. Disamping itu, kita dengan mudah untuk menjaga File PDF tersebut dengan  cara menguncinya dari copy-paste. Sudah barang tentu, ini menjadi lebih terjaga.
Berikut tampilan dekstop File Converter:



Oleh sebab itu, berikut ini saya ingin berbagi aplikasi converter (pdf ke word-Word ke pdf). Dinamakan aplikasi sebab File ini bisa digunakan dalam kondisi Offline dan tanpa menggunakan Google/Mozila. Tentu dengan adanya aplikasi ini, sangat membantu kita dalam menyelesaikan berbagai tugas dan persoalan yang kita hadapi. Dengan adanya aplikasi ini, menggambarkan bahwa penggunaan media elektronik tidak sesulit yang kita pikirkan. Semoga dengan adanya Aplikasi ini semakin menambah wawasan dan kemauan kita untuk semakin berkembang menjadi lebih baik lagi.

Silahkan download dan instal pada link berikut: 

Read more »
8 Tips Agar Bangun di Waktu Shubuh

8 Tips Agar Bangun di Waktu Shubuh

Bangun di waktu Shubuh merupakan hal yang terasa sulit untuk dilaksanakan oleh sebagian orang. Terlebih pada mereka yang bekerja di malam hari atau mereka yang memiliki kesibukan yang padat. Tapi hal tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak melaksanakan shalat shubuh. Berikut ini merupakan 8 tips agar kita senantiasa bangun di waktu shubuh, mulai dari awal hingga pembiasaan bangun shubuh:
  1. Niat yang ikhlas beribadah karena Allah.Dengan memasang yang sebenar-benar niat, maka tindakan yang kita lakukan akan lebih terarah. Contoh, bila kita ingin menjemput seseorang yang tersayang di pagi buta, kita akan mempersiapkan diri untuk tidur lebih awal agar bangun di pagi buta. Begitu juga ketika kita memiliki kecintaan terhadap shalat shubuh, kita akan mempersiapkan diri kita untuk bangun di waktu shubuh. Keimanan tentu hal yang perlu ditanamkan disini.
  2. Wudhu merupakan cara kita agar terhindar dari godaan syaitan.Oleh sebab itu, sebelum menuju tempat tidur, ada baiknya kita berwudhu terlebih dahulu. Ada yang bilang, wudhu itu dahsyat khasiatnya. Tak ada salahnya kita berwudhu dulu. Dengan wudhu, kita lebih terasa lapang.
  3. Persiapkan alat atau Jam Alarm untuk membantu membangunkan kita dari tidur.
    https://pixabay.com/id/jam-weker-waktu-old-jam-alarm-tua-865680/
    Alat pembantu ini dinilai cukup efektif. Bila waktu tidur kita sudah cukup, dengan adanya bantuan alat seperti Jam Alarm ini, akan lebih memastikan untuk kita bangun di waktu yang tepat. Aturlah jam alarm itu diwaktu shubuh.
  4. Kibas/bersihkan tempat tidur kita sebelum menggunakannya.
    Dengan ini, insyaallah kita akan terhindar dari syaiton yang menggoda kita diwaktu tidur. Mengkibaskan tempat tidur juga merupakan salah satu daru sunnah Rasul loh.
  5. Tidurlah dengan menghadap ke sebelah kanan.
    Tips yang satu ini memang benar-benar bagus banget loh. Tidur dengan posisi menghadap ke kanan memang dianjurkan oleh Rasulullah Muhammad saw. Dari penelitian-penelitian tentang kesehatan, juga menemukan bahwa tidur dengan posisi ini berpengaruh baik pada kesehatan.
  6. Berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah agar terhindar dari godaan syaitan.
    Tentunya kita berdoa sebelum tidur. Segala kegiatan tanpa diawali dengan doa, maka akan hilang keberkahannya. Oleh sebab itu, berdoa dianggap sangat penting dalam segala kegiatan, terlebih saat menjelang tidur malam.
  7. Selain tidur di waktu yang tepat, tentu perlu juga untuk memperhatikan tempat tidur kita.
    Tidurlah di tempat yang baik. Dengan begitu, tubuh kita akan merasakan nyaman saat tidur. Dengan demikian, jadwal bangun kita akan terasa ringan.
  8. Konsisten itu sangat perlu dalam menjalankan suatu kegiatan. Konsistenlah dari hari ke hari untuk senantiasa bangun di waktu shubuh. Dengan begitu, kita akan terbiasa untuk bangun di waktu shubuh. Jika sudah terbiasa, tentu menjadi sesuatu yang menyenangkan, apalagi isinya adalah ibadah kepada sang pencipta.
Read more »